Ridwan, M.T

Lecturer UIN Ar-raniry Banda Aceh

Mitigasi dan Evakuasi Bencana 4.0

26 Desember diperingati sebagai hari Tsunami oleh Masyarakat Aceh. Musibah tsunami yang terjadi tahun 2004 telah mengakibatkan korban jiwa ratusan orang. Selain musibah tsunami, bencana alam seperti Gempa bumi, Banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan bencana lainnya hampir setiap tahunnya terjadi di Indonesia khususnya Aceh. Tsunami merupakan Bencana alam terbesar yang dialami oleh masyarakat Aceh, namun bencana lainnya yang setiap saat terjadi tetap harus menjadi perhatian semua pihak.

Rentetan bencana yang sering terjadi di Aceh harus memberikan kesadaran bagi semua pihak untuk pentingnya mewujudkan sistem Mitigasi Bencana yang tangguh.  Mitigasi Bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (dikutip dari Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana). Mitigasi Bencana yang buruk akan memperparah kondisi. Sebagai contohnya, secara langsung dapat dilihat ketika beberapa saat pasca bencana terjadi, Pemerintah Daerah yang seharusnya menjadi penolong bagi para korban, justru tidak berdaya atau kewalahan untuk menangani para korban. Kelemahan sistem Mitigasi Bencana oleh pemerintah daerah akan berdampak kehilangan kendali Pasca bencana terjadi.

Mitigasi Bencana Era 4.0

Era sekarang banyak kalangan menyebutnya sebagai era 4.0 (four points zero). Era yang menuntut penggunaan Teknologi Digital pada setiap aspek kehidupan. Pemanfaatan Jaringan internet dan Teknologi Informasi dan komunikasi terjadi intensif serta masif. Kegiatan fisik sudah terganti dengan cara virtual, mesin atau Robot sudah menggantikan peran manusia, pekerjaan yang dulu memerlukan media, saat ini tidak menggunakannya lagi, tidak memerlukan ruang, namun justru memperpendek jarak. Sebagian besar bisnis menawarkan, menjual produk, dan bertransaksi secara online. Segala bentuk informasi dengan mudah dapat diperoleh melalui dunia maya.

Revolusi industri 4.0 menawarkan nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam Mitigasi Bencana. Beberapa nilai tersebut adalah Nilai serba cepat, serba mudah, serba praktis dan efisien dengan biaya rendah. Penerapan nilai-nilai tersebut tentunya harus dibarengi dengan kecakapan menggunakan Teknologi Informasi.  Saat ini penggunaan alat teknologi informasi digital telah menjangkau berbagai kalangan, tidak membedakan jenis kelamin, umur, maupun lingkungan sosial. Masyarakat tidak membedakan gender ditengarai telah fasih memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial.

Aceh sendiri merupakan salah satu daerah yang akan menuju penerapan Daerah menuju SMART CITY. Beberapa kabupaten/Kota di Aceh juga sudah mempersiapkan diri untuk menuju smart city. Tentunya hal ini membuktikan bahwa SDM di Aceh sudah melek dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Hal ini bisa menjadi peluang bagi Pemerintah daerah untuk menerapkan sistem Mitigasi dan Evakuasi Bencana berbasis 4.0.

Teknologi Internet Of Things (IoT)

Perkembangan Teknologi Internet of Things (IoT) merupakan salah satu hal yang dapat membantu Mitigasi dan Evakuasi Bencana. Pakar telematika Onno W. Purbo pernah mengatakan bahwa “sejumlah perangkat seperti Raspberry Pi, Arduino, dan sejumlah sensor, dapat dipakai untuk mitigasi bencana dengan memanfaatkan konsep Internet of Things“. Pernyataan ini membuktikan bukanlah sebuah keniscayaan Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota dapat menerapkan teknologi pendukung untuk mewujudkan Mitigasi dan Evakuasi Bencana 4.0 hingga ke daerah-daerah yang rawan terjadi bencana alam.

Contoh penggunaan Teknologi IoT misalnya pada Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir. Pengendalian arus air untuk penanggulangan banjir dapat dilakukan lebih cepat sesuai dengan kapasitas bencana yang dapat terukur. Penggunaan sistem ini dapat memberikan informasi secara berkala mengukur ketinggian air.

Penggunaan sensor untuk mendeteksi kebakaran juga dapat diterapkan untuk mewaspadai sejak dini sebelum kebakaran terjadi. Sensor yang diletakkan pada rumah atau gedung akan memberikan Peringatan dini melalui smartphone pemiliknya ketika asap pertama kali muncul.

Kedua contoh tersebut merupakan implementasi sedehana penerapan teknologi IoT untuk mitigasi Bencana. Terdapat banyak contoh lainnya yang menggunakan IoT untuk menerapkan Mitigasi Bencana yang tangguh.

Sistem Data Untuk Mitigasi Bencana

Teknologi big data yang merupakan pilar revolusi industri 4.0 semakin dibutuhkan untuk memperkuat mitigasi bencana berdasarkan dampak (impact based forcasting) dan peringatan berdasarkan risiko (risk based warning). Penggunaan Data akan membantu pengambil kebijakan dalam hal ini Pemerintah Daerah untuk dianalisis atau diolah dalam membuat suatu keputusan, prediksi, dan lainnya. Data juga sangat membantu dalam menyediakan data yang mendukung mekanisme mitigasi serta penanganan pasca bencana. Data juga menjadi salah satu yang sangat bermanfaat dalam membantu para relawan tanggap darurat ketika Bencana terjadi. Dengan tersedianya informasi yang akurat, program tanggap darurat dan rekonstruksi bisa dilaksanakan secara lebih baik.

Platform Data Geospasial semacam OpenStreetMap, pemetaan open source yang memungkinkan memperkirakan tingkat wilayah kerusakan dengan cepat dan memonitor pelaksanaan penanggulangan bencana.

Selama ini Pemerintah sering mengalami kendala dalam mendistribusikan bantuan masa panik bagi para korban bencana. Penerapan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dapat terintegrasi dengan sistem e-government pemerintah daerah dapat mengatasi permasalah tersebut. Terhambatnya arus informasi ketika bencana terjadi misalnya informasi kebutuhan pengungsi, penyaluran bantuan, data korban dan sebagainya bisa menyebabkan data korban simpang siur dan menyebabkan masalah baru.

Menerapkan sistem Informasi Bencana Alam yang terintegrasi dengan Data pemerintah tentu dapat mengatasi permasalahan tersebut. Pemerintah punya data awal suatu wilayah baik data kependudukan, data wilayah, data infrastruktur dan lainnya. Ketika proses evakuasi dan pemberian bantuan terjadi, dapat dengan mudah disinkron dengan Data yang ada pada pemerintah daerah. Ini sangat diperlukan untuk memperlancar proses identifikasi korban, kerugian materi dan infrastruktur. Dukungan sistem ini pun dapat menjadi pertimbangan pengambilan keputusan dalam merehabilitasi para korban.

Langkah Pemerintah Daerah

Untuk mewujudkan Mitigasi dan Evakuasi Bencana 4.0 diperlukan sinkronisasi sistem data kependudukan. Jumlah rumah, jumlah infrastruktur dan kawasan suatu daerah. Selanjutnya, dibuat sistem informasi geografis sebelum dan sesudah. Dengan demikian, bisa tepat dan cepat mengetahui jumlah kerugian jiwa, materi, dan sarana-prasarana.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menciptakan Sistem Mitigasi dan Evakuasi Bencana yang tangguh berbasis 4.0 seperti yang dikuti pada tulisan “Hemat Dwi Nuryanto, Lulusan UPS Toulouse Prancis”

  1. Melakukan survei identifikasi kebutuhan sistem. proses ini mencakup: data atribut ataupun spasial, laporan atau informasi, aliran data dan laporan, prosedur komunikasi antar daerah dan pusat.
  2. Mendesain sistem database, masukan, laporan atau informasi keluaran sistem, prosedur pemprosesan data, dan prosedur komunikasi.
  3. Pembuatan program aplikasi meliputi modul: informasi kependudukan per wilayah, informasi kepemilikan tanah dan rumah, sarana dan prasarana.
  4. Instalasi sistem mencakup: hardware, software aplikasi dan internet.
  5. Melakukan kegiatan pelatihan untuk pengguna. Format informasi bisa berbentuk data geografis yang menginformasikan keadaan bencana dengan cepat.

Kebutuhan Data untuk mencapai langkah tersebut dapat dibagi kedalam bagian:

  1. Data geografis, data yang merupakan data unit atau area yang tersebar secara geografis dalam dua bagian, data spasial (data lokasi, posisi, bentuk) dan data tekstual (data deskripsi teknis, historis, dan administrasi).
  2. Basis data yang diperlukan untuk pengembangan sistem informasi bencana alam meliputi: data citra satelit per tahun, peta kawasan, infrastruktur, land use, data kemiringan, dan utilitas, data tekstual, kependudukan, kepemilikan tanah, rumah, dan infrastruktur.

Tentu langkah tersebut bukan perkara yang mudah yang dapat dijalankan oleh Pemerintah Daerah, namun, bukanlah suatu keniscayaan untuk dapat menerapkannya. Bencana memang tidak dapat diprediksikan kapan terjadinya, namun “Peringatan Hari Bencana Dengan Kegiatan Menghamburkan Dana (APBA dan APBK) justru Membuktikan Bahwa Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota tidak punya Konsep Dalam Mitigasi Bencana“.