Ridwan, M.T

Lecturer UIN Ar-raniry Banda Aceh
Faceapp

FaceApp, bahayakah untuk Privasi pengguna?

Dalam beberapa hari ini, pengguna media sosial lagi heboh dengan munculnya wajah-wajah teman yang berubah menjadi tua. Didamping menjadi tua, ada juga yang muncul dengan gaya berewok dan berjanggut. Hal ini terjadi karena lagi viralnya penggunaan aplikasi FaceApp. Apa itu FaceApp?, untuk gambaran umumnya, aplikasi inilah yang digunakan oleh pengguna untuk merubah wajahnya menjadi tua, muda dan lainnya. Hampir sama dengan aplikasi lainnya yang duluan viral, semacam camera360, beautyPlus dan lainnya.

Faceapp

Viralnya penggunaan aplikasi FaceApp sampai para artis, politisi dan bahkan pejabat menggunakan aplikasi ini. Bahkan sampai muncul tagar #FaceAppChallenge di Instagram dan Twitter. Tagar ini digunakan untuk menantang seseorang menampilkan wajah tuanya. Di Aceh sendiri, viralnya aplikasi FaceApp ini sampai menutupi Timeline facebook dan Instagram.

Faceapp

Viralnya penggunaan AppFace ini sampai muncul kekhawatiran akan keamanan data pengguna. Dikutip dari laman inet.detik.com, munculnya potensi bahaya dari FaceApp kepada privasi pengguna, walaupun dari pihak pengembang FaceApp sudah memberikan bantahannya perihal potensi bahaya ini. Aplikasi FaceApp ini punya Wireless Lab, Rusia. Karena aplikasi punya Rusia, sampai pihak Amerika jadi ketakutan karena banyaknya pengguna yang menginstallnya.

“Senator Chuck Schumer dari Partai Demokrat bahkan meminta FBI untuk menginvestigasi mekanisme pengumpulan data yang dilakukan aplikasi ini karena kekhawatiran data milik warga negara AS yang jatuh ke tangan pemerintah Rusia”.

Seperti kita ketahui, hubungan antara Rusia dan Amerika sempat memanas pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Isu kecurangan mencuat dan berhubungan dengan pencurian data.

BAHAYA PRIVASI

Berikut kutipan pernyataan dari pemilik aplikasi faceApp, Rob La Gesse, mantan CEO perusahaan CloudKit Rackspace.

“Untuk membuat FaceApp bekerja, Anda harus memberi izin akses foto Anda, semuanya. Tapi ia juga mendapat akses ke Siri dan Search. Kenapa? Bukan untuk sesuatu yang bagus saya kira. Ia juga punya akses untuk refresh background, jadi bahkan ketika Anda tak menggunakan, aplikasi itu memanfaatkan Anda,”. Dalam pernyataan ini dijelaskan bahwa pemilik aplikasi tidak akan menjual data kepada pihak ketiga walaupun dalam penggunaan aplikasi meminta beberapa hak izin akses privasi pengguna.

Pembahasan sebelumnya telah saya bahas sedikit tentang apa itu privasi dan bagaimana cara menjaga privasi khususnya di media sosial.

Baca : Menjaga Privasi di Media Sosial

Tulisan ini tidak memvonis bahwa aplikasi FaceApp dapat berbahaya bagi pemakai. Pernyataan dari pemilik aplikasi FaceApp sebenarnya sudah jelas. Namun sepatutnya kita sebagai pengguna aplikasi harus waspada terhadap akses privasi-privasi yang bisa dilakukan oleh sebuah aplikasi.

Untuk mengetahui apakah FaceApp ini bahaya untuk privasi pengguna. Terlebih dahulu coba kita lihat apa saja akses yang bisa dilakukan oleh aplikasi FaceApp pada perangkat yang kita gunakan. Dikutip dari inet.detik.com, aplikasi FaceApp dapat mengakses foto, informasi lokasi, penggunaan data serta history browsing. Untuk memastikan tentang hak akses ini, bisa kita lihat dari perangkat Smartphone yang kita gunakan. Coba lihat gambar berikut (OS Android). Izin aplikasi ini bisa kita lihat di menu : Pengaturan aplikasi

FaceApp

 

Gambar 1 memperlihatkan bahwa aplikasi FaceApp meminta ijin untuk mengakses foto, media dan file pada perangkat yang kita gunakan. Artinya kita memberikan izin kepada aplikasi untuk dapat mengakses semua foto, video dan file2 yang ada dalam Smartphone yang kita punya.

FaceApp

Gambar 2, ijin untuk mengakses data Penyimpanan. Artinya hampir sama dengan penjelasan gambar 1, kita memberikan akses izin kepada aplikasi untuk akses penyimpanan Smartphone. Penyimpanan disini berhubungan dengan Memory Smartphone dan kartu memory.

FaceApp

 

 

Faceapp

Gambar 3 dan 4, Detail akses perijinan yang kita berikan kepada aplikasi FaceApp. Pertama kita lihat, aplikasi punya akses pada penyimpanan, didetailkan disini aplikasi bisa “mengubah atau menghapus konten kartu SD” dan “membaca konten kartu SD anda”. Mengubah artinya aplikasi memungkinkan bisa menambahkan dan menulis pada kartu SD yang kita punya. Kemudian makna membaca yaitu kita mengizinkan aplikasi FaceApp untuk membaca konten konten kartu SD anda. Izin selanjutnya yaitu akses “Jaringan penuh”,artinya FaceApp dapat membuat Soket jaringan dan menggunakan protokol jaringan khusus, browser dan aplikasi lain yang menyediakan sarana internet. Artinya aplikasi FaceApp dapat melihat aktivitas kita ketika tersambung internet, misal apa yang kita cari lewat browser, data History browser kita dan lainnya. History maksudnya adalah segala hal aktivitas kita sewaktu menggunakan browser semisal Chrome, Firefox dan lainnya.

Catatan :

”Kartu SD adalah sebuah format kartu memory flash yang kita gunakan pada Smartphone, lebih mudahnya kita kenali sebagai kartu memory”.

Dari beberapa penjelasan terhadap izin akses, dapat disimpulkan bahwa aplikasi FaceApp memang bisa mengakses data penyimpanan data pada perangkat Smartphone yang kita gunakan. Foto-foto di Smartphone kita akan tersimpan pada server FaceApp. Sampai disini pasti semua akan paham, bahwa foto-foto kita akan ada di server FaceApp.

Dalam pernyataan terbarunya, pemilik FaceApp memberikan pernyataan bahwa “Kebanyakan foto dihapus dari server kami dalam waktu 48 jam sejak waktu upload,” dan juga mengatakan tidak ada data user yang dikirimkan ke Rusia. “Kami juga tidak menjual atau membagikan data dengan pihak ketiga manapun,” tambah Yaroslav seperti dikutip dari laman inet.detik.com.

FaceApp

Berdasarkan pembahasan ini, sampai pada kesimpulan akhir sesuai dengan topik yang kita bahas, Bahayakah FaceApp untuk privasi pengguna?

Untuk menjawab hal ini, kembali lagi kepada pribadi masing-masing pengguna berdasarkan beberapa penjelasan yang telah disampaikan diatas. Tidak semuanya aplikasi yang gratis akan memberikan kesenangan untuk pemakainya, yang tanpa kita sadari, kita telah memberikan segalanya tentang kita kepada orang lain. Kita senang bermain kuis-kuis atau aplikasi ramalan di facebook, ataupun aktivitas lainnya di internet yang mengharuskan kita untuk memberikan data-data pribadi kepada orang lain. Ada orang yang curhat, kenapa saya sering masuk SMS undian berhadiah, kenapa email saya sering masuk spam atau link bahaya, bahkan ada yang menangis ketika melihat Saldo di rekeningnya jadi 0 (nol). Untuk sedikit pemahaman coba baca kasus yang heboh tahun Lalu tentang pencurian data yang dilakukan Analytical Cambridge yang menyeret Facebook.

Baca : Cara Cambridge Analytical mencuri data pengguna

Diera teknologi informasi, sebagai pengguna internet dan media sosial, kita harus cerdas dan teliti. Privasi pengguna sangat perlu dijaga jangan sampai kita mengumbarnya secara gratis dan mudah.