Ridwan, M.T

Lecturer UIN Ar-raniry Banda Aceh
bisnis-bocah-kecil

Bisnis Kecilan ala Bocah kecil

Duduk nongkrong di warung kopi untuk melepaskan penatnya suatu pekerjaan sudah menjadi rutinitas bagi seseorang. Menghabiskan waktu dengan sekedar ngopi bareng teman dan kerabat sudah menjadi pemandangan sehari-hari dikawasan kota Banda Aceh. Fenomena ini sudah menjamur bukan hanya di Kota Banda Aceh, namun di daerah lainnya juga berlaku hal yang sama.

Satu pemandangan yang sering ditemui ketika duduk di warung kopi, cafe maupun tempat keramaian lainnya adalah munculnya para peminta sedeqah. Mereka muncul silih berganti dengan gaya masing-masing mengharapkan sedikit sedeqah. Orang dewasa, remaja bahkan anak-anak menjalani pekerjaan ini.

CERITA PRIBADI

Suatu waktu, ketika saya lagi duduk disebuah warung kopi sekitaran Darussalam, Banda Aceh, ada seorang anak kecil yang datang menghampiri. Usianya sekitar 8 atau 9 tahun dan jenis kelamin perempuan. Dengan mengucapkan salam, anak kecil ini berdiri disamping saya dengan memegang sesuatu ditangannya. Pertama kali melihatnya saya langsung berpikir, bahwa anak kecil ini adalah seorang peminta-minta. Namun, dugaan saya tidak benar. Anak kecil ini menawarkan sesuatu kepada saya dalam bentuk sebuah hiasan dinding.

Akhirnya, anak kecil tersebut saya persilahkan duduk dikursi sambil saya tawarkan minum dan kue. Dia menurut dan minta dipesan air teh hangat dalam plastik saja. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk menggali informasi tentang sianak. Jenis barang yang dia jual adalah hiasan kaligrafi islami yang bisa ditempelkan di dinding rumah atau lainnya (lihat gambar).

bisnis-bocah-kecil
Kaligrafi Hiasan Dinding

Kaligrafi ini adalah buatan tetangganya, berarti sianak ini berfungsi sebagai penjual (reseller). Harga untuk 1 buah hiasannya tidak ada patokan. Ketika saya bertanya, berapa harganya, dia menjawab “Ikhlas saja bang (dalam bahasa Aceh)”. Muncul pertanyaan dari saya kepadanya, apakah dia bisa memproduksi sendiri hiasan dinding tersebut, jawabannya, iya bisa. Namun, karena dia lebih fokus untuk menjual keliling, ibu sianak tidak membebankan hal tersebut kepada sianak. Maksudnya, ibunya tidak menyuruh sianak untuk membuatnya tapi fokus ke penjualan saja. Singkat kata, saya beli 2 hiasan dindingnya dengan memberikan uang yang sesuai dengan harga jualnya.

BISNIS ANAK KECIL

Cerita tersebut adalah fakta yang saya tuliskan bukan sebuah rekayasa. Fenomena tersebut memang bukanlah sebuah hal baru yang sering kita temui. Namun, ada hal lainnya yang menarik untuk dilihat dari cerita tersebut. Saya mengatakannya “Bisnis Kecilan ala anak kecil”.

bisnis-bocah-kecil

Usaha kecil-kecilan memiliki pengertian yaitu jenis usaha yang memiliki jumlah pekerja kurang atau tidak lebih dari 50 orang. Usaha kecil-kecilan merupakan usaha milik perseorangan, bukan milik suatu badan atau sebuah organisasi yang besar. Kriteria dari jenis usaha kecil-kecilan ini adalah jenis usaha yang memiliki modal yang minim atau bahkan dapat dimulai tanpa modal sekalipun. Jenis usaha kecil-kecilan ini paling cocok dilakukan untuk pemula bisnis yang pada umumnya tidak atau belum memiliki keahlian khusus. Kriteria lain dari usaha kecil-kecilan adalah tidak membutuhkan banyak pegawai serta tidak harus memiliki badan usaha.  (kutipan dari sumber internet)

Dari definisi tersebut, penjualan yang dilakukan oleh anak kecil tersebut sudah bisa dikategorikan sebagai salah satu usaha kecila-kecilan. Modal untuk membuat hiasan dinding tersebut, menurut prediksi hanya memerlukan kertas dari sampah yang memang tidak dibutuhkan lagi. Untuk gambar kaligrafinya, bisa saja hanya di print saja. Pastinya tidak membutuhkan modal yang besar. Si Anak telah belajar untuk menghasilkan uang dari usia kecil untuk membantu orang tuanya. Dia tidak mau untuk menjadi seorang peminta-minta, namun dia lebih suka untuk mencari uang melalui sebuah transaksi (berdagang).

Contoh yang perlu ditiru oleh Bapak-bapak, Ibu-ibu bahkan seorang peminta-minta yang dilihat secara fisik masih kuat untuk bekerja namun dengan tidak malu menjadi seorang pengemis. Mereka-mereka seharusnya malu dengan bocah kecil ini.

PERAN PEMERINTAH

Berdasarkan UUD 45 dengan perubahannya, “BAB XIV Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial – Pasal 34 yaitu: (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara“.

Sesuai dengan UU tersebut, sudah seharusnya Negara harus melindungi warganya yang fakir miskin. Walaupun bisa dilihat, langkah ini tidak semuanya dijalankan oleh Negara. Hadirnya para pebisnis-bisnis kecil yang dilakukan oleh masyarakat harus menjadi perhatian bagi pemerintah daerah. Mereka harus di didik agar kedepannya ide bisnis yang dijalankannya harus lebih berkembang lagi. Pemerintah harus mendata bisnis-bisnis kecil masyakarat apalagi para pedagang-pedagang kecil dari warung ke warung yang menjual hasil karyanya sendiri. Dengan memberikan support dan pengembangan bisnis terdahap mereka, angka jumlah pengemis bisa saja akan berkurang dengan sendirinya. Tanpa perlu diawasi dan dikejar-kejar oleh satpol PP.

Terakhir, ketika melihat bocah kecil berjualan hiasan kaligrafi tersebut, sempat terbayang untuk menawarkan kepadanya, Bagaimana kalau produks tersebut kita promosikan menggunakan Media Sosial (Internet Marketing) atau Jualan secara online. Namun, ketika saya melihat usianya yang masih kecil, niat tersebut saya tunda dulu. Takutnya dia nanti akan terpengaruh dengan dunia internet, yang bisa saja menghambat kreatifitasnya dan pendidikannya. Biarkan saja Bocah tersebut menjalani aktifitas berjualan secara langsung dari warung ke warung. Jika nanti sudah memasuki usia idel untuk menggunakan internet, jiwa Bisnis Onlinenya pasti akan muncul secara sendirinya.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *.

*
*
You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>