Ridwan, M.T

Lecturer UIN Ar-raniry Banda Aceh

Kenyamanan Taraweh di Mesjid Keuchik Leumik

Bulan Mei Tahun 2019 merupakan awal saya melakukan aktifitas pekerjaan di Banda Aceh. Bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan, menambah suasana aktifitas yang berbeda dengan aktifitas sebelumnya. Bulan Suci Ramadhan yang jatuh pada tgl. 06 Mei 2019 memberikan warna lain dalam rutinitas aktifitas pekerjaan.

Mengawali puasa pertama Ramadhan dan berhadapan dengan lingkungan baru tempat tinggal. Suasana tersebut saya rasakan berbeda ketika ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Dikarenakan aktifitas pekerjaan yang padat, membuat penyambutan bulan Ramadhan tahun ini terlewatkan hari meugang bersama keluarga. Namun, rasa syukur kepada Allah SWT tetap menjadi pegangan atas apa yang telah diberikan-NYA.

Shalat Taraweh

Salah satu ibadah bulan suci Ramadhan adalah Shalat Taraweh Berjamaah. Dulu, ketika masih tinggal di Gampong (Desa) bersama istri dan anak-anak, Shalat taraweh dilakukan di meunasah, dan Alhamdulillah tidak pernah absen. Ramadhan tahun ini, puasa dan shalat taraweh tanpa ditemani oleh isteri dan anak-anak.

Taraweh di Kota Banda Aceh menjadi aktifitas terbaru selama bulan ramadhan. Satu hal yang menjadi perhatian adalah mencari mesjid yang jumlah tarawehnya 20 rakaat. Menurut informasi, hampir rata-rata Mesjid di Banda Aceh jumlah rakaatnya 8 rakaat.

Pilihan akhirnya tertuju ke Mesjid indah yang baru dibangun dan berdiri megah, yaitu Mesjid Keuchik Leumik. Pertama kali melihat design mesjid yang begitu indah membuat rasa kagum yang luar biasa. Namun, dalam hati masih terpikir, berapakah jumlah rakaat taraweh di mesjid ini?

Mesjid Keucik Leumik

Sekilas cerita tentang Mesjid Keuchik Leumik yang saya ambil dari beberapa sumber.

Ramadhan 2019 menjadi ramadhan perdana bagi mesjid yang dibangun oleh Tokoh masyarakat Haji Harun Keuchik Leumik. Mesjid yang memiliki arsitektur indah, perpaduan kilauan warna emas membuat measjid ini menjadi salah satu tempat favorit di Banda Aceh.

Diresmikan oleh Plt. Gubernur Aceh pada 28 Januari 2019, Shalat taraweh dipenuhi oleh Jamaah yang diperkirakan mencapai seribu. Namun, kesan nyaman dalam menjalankan ibadah tetap terasa, hal ini karena dalam mesjid dilengkapi dengan sistem pendingin yang terdapat setiap sudut ruangan.
dibangun di atas lahan seluas 2.500 meter persegi di Kompleks Balai Pengajian Haji Keuchik Leumiek yang memiliki luas total 3.500 meter.

Di bagian dalam masjid, warna kuning emas menghiasi bagian dinding depan. Lampu gantung berdiameter tiga meter yang menggantung di bagian dalam kubah menambah kemewahan masjid ini.

Di malam hari, masjid terlihat lebih berwarna. Kilauan lampu di bagian menara dan kubah tampak memukau. Apalagi jika disaksikan dari seberang bantaran Krueng Aceh. Gambaran masjid di dalam air sungai semakin membuat masjid ini menawan.

Sejarah Mesjid Keuchik Leumik

Pengusaha Aceh, Haji Harun Keuchik Leumik, adalah donatur tunggal pembangunan masjid bergaya Timur Tengah ini. Mantan wartawan yang juga seorang kolektor benda bersejarah ini sudah lama memendam hasrat membangun sebuah masjid yang akan selalu menautkan hatinya dengan nuansa Timur Tengah.

Ini tampak dari arsitektur masjid yang mengingatkan kita pada istana megah yang dibangun Ratu Bilqis demi menggoda Nabi Sulaiman. Lihat saja bentuk relief masjid ini yang merupakan perpaduan antara gaya Timur Tengah. Di beberapa bagian, arsitektur masjid ini menyerupai Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Sejumlah pohon kurma ditanam di halaman masjid untuk menguatkan citra Timur Tengah.

Haji Harun Keuchik Leumik mengatakan pembangunan masjid itu telah direncanakan puluhan tahun lalu.

“Saya bernazar membangun masjid, tapi enggak ada tanah waktu itu. Berapa bulan lalu saya berjemaah di bale, saya menghadap ke tanah kosong. Kenapa tidak kita bangun di sini saja,” kata Haji Harun Keuchik Leumik (*Kutipan serambi indonesia)

nama yang ditabalkan merupakan nama keluarga Haji Keuchik Leumik. Kolektor benda-benda kuno ini enggan menyebut total biaya untuk membangun masjid semegah ini. Menurutnya, hal itu untuk mencegah sifat ria.

Terakhir, di Mesjid ini, jumlah rakaat shalat taraweh adalah 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Sebagian jamaah ada yang melaksanakan 8 rakaat. Perbedaan jumlah rakaat ini tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk melaksanakan ibadah sambil menikmati keindahan mesjid.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *.

*
*
You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>